Penelitian terbaru mengungkap fakta penting: kesedihan mendalam pada anak setelah kehilangan orang terdekat dapat berkembang menjadi depresi pada anak dan prolonged grief disorder (PGD) bila tidak mendapat dukungan memadai. Temuan ini berasal dari studi kasus seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang mengalami perubahan emosional dan perilaku setelah kakeknya meninggal dunia.
Kakek tersebut merupakan figur yang paling dekat dengannya. Setelah kehilangan itu, sang anak mulai menunjukkan gejala stres berat—mudah menangis, sulit tidur, sering mengeluh sakit perut tanpa penyebab medis, kehilangan minat belajar, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Akibatnya, gejala tersebut terus berkembang hingga masuk kategori PGD dan depresi anak.
Kesedihan Anak Bukan Sekadar Emosi Sesaat
Berbeda dengan orang dewasa, anak sering tidak mampu mengekspresikan duka melalui kata-kata. Karena itu, Emosi negatif yang tidak tersalurkan muncul dalam bentuk perilaku agresif, keluhan fisik, atau penurunan motivasi belajar. Kondisi emosional yang tidak tertangani dapat mengganggu perkembangan otak dan kemampuan pengendalian emosi.
Menurut peneliti, “Kesedihan berkepanjangan dapat mengganggu fungsi harian anak dan memicu depresi apabila tidak diimbangi dengan dukungan emosional dari keluarga.”
Lingkungan Keluarga Memperkuat Dampak Kesedihan
Studi menunjukkan bahwa kondisi keluarga sangat memengaruhi pemulihan anak.
Dalam kasus ini, anak tinggal dalam lingkungan penuh tekanan, orang tua bercerai, minim dukungan emosional, dan sering menerima kritik.
Kombinasi ini memperburuk rasa kehilangan hingga akhirnya memicu gangguan psikologis berlapis.
Di sekolah, perilaku anak juga berubah. Ia kehilangan motivasi belajar, jarang berinteraksi, dan semakin sulit berkonsentrasi. Guru mencatat kemundurannya sebagai tanda kesedihan yang tidak tersalurkan.
Mengapa Duka Bisa Berkembang Menjadi Gangguan Serius?
Penelitian menemukan beberapa penyebab utama:
- Dukungan emosional tidak memadai, membuat anak tidak punya tempat bercerita.
- Kehilangan figur keterikatan, yaitu sosok kakek yang amat dekat.
- Tekanan psikologis keluarga, seperti kritik dan konflik domestik.
- Kesulitan anak mengekspresikan emosi, sehingga duka tersimpan dan berubah menjadi stres berat.
Kesedihan yang berlangsung lama dapat memicu prolonged grief disorder, ditandai dengan rasa rindu yang terus-menerus, penolakan terhadap kenyataan, serta gangguan aktivitas harian. Selain itu, bila PGD muncul bersamaan dengan depresi, risiko gangguan jangka panjang meningkat signifikan.
Solusi untuk Membantu Anak Mengatasi Rasa Duka
Peneliti menawarkan beberapa strategi pemulihan:
1. Terapi psikologis
Metode seperti Cognitive Behavior Therapy (CBT) membantu anak mengenali pikiran negatif dan mengatur emosinya.
2. Terapi seni dan bermain
Anak dapat mengungkapkan emosi melalui menggambar, musik, atau permainan.
3. Dukungan sekolah
Guru perlu memantau perubahan perilaku dan memberi ruang aman bagi anak.
4. Edukasi keluarga
Orang tua harus mengurangi kritik, menyediakan waktu untuk mendengarkan, dan memperkuat afeksi.
5. Pendekatan pendukung
Aromaterapi seperti lavender dapat membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur.
Risiko Bila Tidak Ditangani Sejak Awal
Tanpa intervensi, dampaknya dapat meluas:
- prestasi belajar menurun,
- sulit membangun relasi sosial,
- risiko depresi jangka panjang,
- kecemasan berlebih,
- potensi perilaku berisiko pada masa remaja.
Karena itu, pendampingan sejak dini sangat penting agar anak tidak tenggelam dalam kesedihan.
Kesimpulan
Oleh karena itu, penelitian menegaskan bahwa kesedihan pada anak harus ditangani secara serius. Anak berduka membutuhkan lingkungan yang aman, penuh empati, dan didukung oleh orang dewasa di sekitarnya. Tanpa dukungan tersebut, duka dapat berkembang menjadi depresi dan PGD yang berdampak panjang pada kesejahteraan emosional mereka.
Dengan intervensi tepat dan komunikasi yang hangat, anak dapat pulih dari kehilangan dan kembali tumbuh dengan sehat secara mental dan emosional.
Jika kamu memiliki penelitian serupa dan ingin menerbitkannya di jurnal ilmiah nasional atau internasional, IDSCIPUB siap mendampingi.
