Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pelatihan keamanan pangan berbasis blended learning berhasil meningkatkan pengetahuan ibu dalam mencegah stunting pada anak-anak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Namun, meski pengetahuan meningkat signifikan, penelitian ini juga menemukan bahwa motivasi ibu dalam menerapkan kebiasaan makan sehat masih memerlukan pendampingan berkelanjutan.
Stunting Masih Jadi Masalah Nasional
Stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi stunting mencapai 30,8%, jauh di atas batas toleransi WHO sebesar 20%.
Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi kecerdasan dan produktivitas mereka di masa depan.
Di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sintang, kasus stunting masih tinggi karena kurangnya pemahaman tentang gizi dan keamanan pangan di tingkat rumah tangga. Banyak ibu belum memahami bagaimana memilih, mengolah, dan menyajikan makanan yang benar-benar aman bagi anak.
“Makanan yang aman dari kontaminasi biologis, kimia, dan fisik adalah fondasi tumbuh kembang anak yang optimal,” ujar peneliti utama.
Pelatihan Ibu di Sintang: Gabungkan Tatap Muka dan Digital
Penelitian ini melibatkan 41 ibu dengan anak berusia di bawah dua tahun di Desa Sungai Ana dan Baning Kota, Kabupaten Sintang. Mereka mengikuti pelatihan keamanan pangan berbasis blended learning — gabungan antara pembelajaran tatap muka di Posyandu dan materi digital sederhana melalui video dan modul bergambar.
Materi pelatihan mencakup:
- Cara memilih bahan makanan yang aman dan bergizi
- Teknik penyimpanan dan pengolahan makanan yang higienis
- Pengenalan bahan berbahaya seperti formalin dan boraks
- Serta kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan dapur
Pengetahuan Naik Tajam, Motivasi Butuh Dukungan
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan ibu tentang keamanan pangan. Sebelum pelatihan, 73,2% ibu sudah memiliki pengetahuan cukup baik. Setelah pelatihan, angka tersebut melonjak menjadi 97,6%. Pelatihan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pengetahuan. Namun, peningkatan motivasi ibu belum terlihat, sebagian besar ibu memang memahami teori, tetapi belum semuanya termotivasi mengubah kebiasaan lama di rumah.
Faktor yang Mempengaruhi: Pendidikan dan Kondisi Ekonomi
Penelitian juga menemukan bahwa tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pelatihan. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi lebih cepat memahami dan menerapkan konsep food safety, sementara ibu berpendidikan dasar cenderung membutuhkan pendampingan lebih lama.
Faktor ekonomi juga menjadi kendala. Sebagian ibu mengaku sulit membeli bahan makanan berkualitas karena harga yang lebih tinggi.
Selain itu, masih ada kebiasaan lama yang berfokus pada “yang penting kenyang,” bukan pada kandungan gizi.
Dampak Nyata di Lapangan
Meski motivasi belum meningkat signifikan, pelatihan telah memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ibu kini lebih selektif dalam memilih bahan makanan, memperhatikan label produk, dan menjaga kebersihan alat masak. Beberapa ibu juga membentuk kelompok kecil untuk saling berbagi tips memasak sehat dan mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dapur.
Mengapa Keamanan Pangan Krusial untuk Cegah Stunting
Menurut WHO, makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak higienis menjadi salah satu penyebab utama stunting pada anak usia 6–23 bulan. Kebiasaan memberi makanan dengan air tidak bersih atau menyimpan makanan terlalu lama bisa memicu infeksi pencernaan dan gangguan penyerapan gizi.
Melalui edukasi food safety, ibu dapat memastikan bahwa makanan anak bebas kontaminasi, mengandung gizi seimbang, dan diolah dengan cara yang higienis. Langkah sederhana seperti mencuci bahan makanan dengan air bersih, memisahkan bahan mentah dan matang, serta menyajikan makanan segera setelah dimasak dapat membantu mencegah risiko stunting sejak dini.
Blended Learning: Solusi Edukasi Kesehatan di Daerah
Model blended learning terbukti efektif dalam menjangkau masyarakat pedesaan seperti Sintang. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dan jarak antarpermukiman bisa diatasi dengan teknologi digital sederhana yang mudah diakses lewat ponsel. Kader Posyandu juga dapat melanjutkan peran sebagai fasilitator pembelajaran, mengirimkan video dan infografik edukatif melalui grup WhatsApp ibu-ibu balita. Pendekatan ini diharapkan menjadi model edukasi kesehatan masyarakat yang lebih luas di daerah lain.
Kesimpulan: Ibu Cerdas, Anak Sehat
Penelitian di Kabupaten Sintang ini menunjukkan bahwa pengetahuan adalah langkah awal paling penting dalam memerangi stunting. Dengan edukasi keamanan pangan yang tepat, para ibu kini lebih memahami pentingnya makanan aman dan bergizi bagi anak-anak mereka.
Meski motivasi belum tumbuh merata, semangat perubahan sudah terlihat. Jika program serupa diperluas ke seluruh daerah, Indonesia dapat semakin dekat menuju generasi bebas stunting — generasi sehat, cerdas, dan kuat.
Jika kamu memiliki penelitian serupa dan ingin menerbitkannya di jurnal ilmiah nasional atau internasional, IDSCIPUB siap mendampingi.
