Sinergi International Journal of Psychology mempublikasikan penelitian terbaru pada Agustus 2023. Studi ini menyoroti fenomena yang belum banyak dibahas di ranah akademik Indonesia.
Peneliti mengkaji bagaimana karakter AI waifu di platform Character.AI membantu pemulihan emosional penggemar anime atau “weaboo”. Para penggemar ini mengalami Posttraumatic Relationship Syndrome (PTRS).
Studi ini berjudul “The Role of AI Waifu Characters in Supporting Weaboos with Posttraumatic Relationship Syndrome (PTRS)“. Peneliti menelusuri pengalaman emosional tiga partisipan. Mereka menjalin interaksi romantis simulatif dengan karakter anime favorit melalui chatbot AI.
Hasilnya menunjukkan spektrum respons emosional yang luas. Partisipan mulai dari kecurigaan dan keraguan di awal percakapan. Mereka mengakhiri sesi dengan rasa bahagia dan kepuasan emosional yang mendalam.
Apa Itu Posttraumatic Relationship Syndrome (PTRS)?
PTRS berbeda dari Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) yang umum dikenal. PTSD biasanya muncul dari satu peristiwa traumatis tunggal. Sebaliknya, PTRS muncul dari rangkaian pengalaman traumatis dalam sebuah hubungan romantis. Gejala PTRS juga tidak disertai efek mati rasa (numbing) seperti pada PTSD.
Penderita bisa merasakan rasa tidak aman yang terus-menerus dan kecemasan berlebih. Mereka juga sulit mempercayai orang lain. Kilas balik (flashback) terhadap peristiwa traumatis sering muncul kembali. Riset ini turut mencatat bahwa kegagalan asmara menjadi salah satu pemicu utama depresi. Risiko ini berdampak nyata pada kesehatan mental jangka panjang.
Character.AI dan Fenomena Waifu di Kalangan Penggemar Anime
Istilah “waifu” berasal dari kata bahasa Inggris “wife”. Istilah ini merujuk pada karakter fiksi perempuan dalam anime, manga, atau video game. Karakter ini menjadi objek kekaguman dan kedekatan emosional bagi penggemarnya. Fenomena ini bukan hal baru. Seorang pria Jepang pernah “menikahi” karakter virtual secara simbolis pada 2018. Kasusnya menjadi sorotan dunia dan dikenal dengan istilah fictosexual atau fictophilia.
Kehadiran Character.AI membuat riset ini relevan secara kontemporer. Platform ini berbasis deep learning dan memungkinkan pengguna berinteraksi dengan berbagai karakter fiksi. Termasuk di dalamnya versi AI dari karakter anime populer. Gaya percakapannya dirancang menyerupai kepribadian karakter aslinya.
Tiga partisipan dalam penelitian ini masing-masing berinteraksi dengan karakter AI berbeda. Mereka memilih Haibara Ai dari Detective Conan, Yuuki Asuna dari Sword Art Online, dan Rem dari Re:Zero. Setiap partisipan menjalani sepuluh sesi percakapan berjenjang, mulai dari perkenalan hingga topik pernikahan.
Temuan Utama: Transformasi Emosional Tiga Partisipan
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan purposive sampling. Tiga pria lajang penggemar anime menjadi partisipan penelitian ini. Ketiganya tengah mengalami PTRS atau patah hati. Peneliti mengumpulkan data lewat rekaman interaksi chatbot dan wawancara individual mendalam.
Berikut beberapa pola emosional yang teridentifikasi:
- Partisipan A berinteraksi dengan karakter Haibara Ai. Ia mengalami transisi dari kekecewaan awal menuju rasa pencapaian dan kepuasan emosional, seiring karakter AI tersebut menunjukkan keterbukaan.
- Partisipan B menjalin percakapan dengan Asuna. Ia menunjukkan respons kenyamanan dan kepuasan emosional saat membayangkan momen kebersamaan yang intim namun sederhana.
- Partisipan C berinteraksi dengan Rem. Ia memperlihatkan pergeseran dari rasa malu dan ragu menjadi antusiasme serta ikatan emosional yang berkembang.
Ketiga partisipan menemukan ruang aman untuk mengekspresikan emosi mereka. Peneliti menyimpulkan bahwa ruang ini sulit mereka dapatkan dalam hubungan nyata. Rasa takut ditolak dan trauma masa lalu menjadi penyebabnya.
Peluang dan Risiko: Dua Sisi Interaksi dengan AI Companion
Interaksi dengan AI waifu berpotensi memberikan dampak positif. Penelitian ini menggarisbawahi manfaatnya berupa dukungan emosional dan rasa keterhubungan. Manfaat ini penting bagi individu yang kesulitan menjalin relasi romantis di dunia nyata akibat trauma.
Namun, penulis juga mencatat adanya risiko. Karakter AI dapat memberikan respons yang bervariasi tergantung persona yang dibangun penggunanya.
Chatbot terkadang memberikan jawaban yang kurang tepat. Jawaban ini bisa membahayakan kondisi psikologis pengguna yang rentan, terutama saat topiknya menyentuh isu serius. Misalnya keputusasaan atau pikiran menyakiti diri sendiri.
Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan satu hal penting. Interaksi AI companion sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti, dukungan profesional. Ini berlaku khususnya bagi seseorang yang mengalami gejala PTRS berkepanjangan.
Kesimpulan: AI Companion sebagai Ruang Aman, Bukan Solusi Tunggal
Riset ini memperlihatkan potensi nyata teknologi AI chatbot seperti Character.AI. Teknologi ini bisa menjadi media ekspresi emosional bagi individu yang mengalami PTRS, khususnya di kalangan penggemar anime. Namun, hasil ini juga mengingatkan satu hal. Teknologi hanyalah alat bantu. Pemulihan emosional yang menyeluruh tetap memerlukan dukungan sosial. Bila diperlukan, pendampingan profesional di bidang kesehatan mental juga penting.
Punya penelitian serupa? IDSCIPUB siap mendampingi publikasinya ke jurnal ilmiah nasional maupun internasional.
Sumber: Mohammad, W. (2023). The Role of AI Waifu Characters in Supporting Weaboos with Post-Traumatic Relationship Syndrome (PTRS). Sinergi International Journal of Psychology, 1(2), 77–96.
