Dalam proses publikasi ilmiah, istilah corresponding author sering membingungkan banyak peneliti. Mereka sering bertanya, apakah corresponding author harus penulis utama? Pertanyaan ini muncul karena setiap jurnal menerapkan kebijakan authorship yang berbeda. Oleh karena itu, artikel ini akan memberikan penjelasan yang jelas. Selain itu, Anda akan memahami peran, tugas, dan etika dalam menentukan penulis korespondensi agar proses publikasi berjalan lebih lancar.
Apa Itu Corresponding Author?
Penulis korespondensi merupakan penulis yang bertugas menjadi penghubung resmi antara tim peneliti dan pihak jurnal. Oleh karena itu, ia berperan penting dalam komunikasi editorial.
Tugasnya meliputi:
- Mengirimkan naskah
- Mengelola komunikasi dengan editor dan reviewer
- Menyiapkan revisi
- Mengirimkan file final
- Menjawab pertanyaan pembaca setelah publikasi
Dengan demikian, Penulis korespondensi memegang peran administratif yang sangat penting.
Apakah Corresponding Author Harus Penulis Utama?
Jawabannya tidak. Meskipun banyak yang mengira keduanya harus sama, kenyataannya penulis korespondensi tidak perlu menjadi penulis utama.
Selain itu, dalam banyak kasus:
- Peneliti senior lebih tepat memegang posisi penulis korespondensi
- Pembimbing mahasiswa sering mengambil peran ini
- Anggota tim dengan afiliasi paling stabil lebih cocok sebagai kontak utama
Dengan kata lain, peran penulis korespondensi tidak selalu berkaitan dengan kontribusi terbesar, tetapi lebih pada kesiapan berkomunikasi dengan jurnal.
Perbedaan Corresponding Author dan First Author
First Author (Penulis Utama)
Penulis utama biasanya memberikan kontribusi terbesar. Ia menulis sebagian besar naskah, merancang penelitian, serta menganalisis data. Selain itu, namanya muncul paling pertama dalam daftar penulis.
Corresponding Author (Penulis Korespondensi)
Penulis korespondensi bertugas mengelola komunikasi editorial. Ia mengunggah naskah, mengoordinasikan revisi, dan menjawab komentar reviewer. Selain itu, ia menjadi kontak resmi setelah artikel terbit.
Dengan demikian, perbedaan keduanya sangat jelas baik dari sisi kontribusi maupun tanggung jawab.
Mengapa Corresponding Author Tidak Harus Penulis Utama?
1. Stabilitas Afiliasi
Sering kali penulis utama adalah mahasiswa. Karena email institusi mahasiswa tidak permanen, dosen pembimbing lebih cocok menjadi corresponding author.
2. Pengalaman Editorial
Peneliti senior biasanya lebih berpengalaman menghadapi proses revisi. Oleh karena itu, mereka sering mengambil peran ini.
3. Kemudahan Koordinasi
Penulis korespondensi dipilih berdasarkan siapa yang paling mudah dihubungi. Selain itu, ia harus mampu menjaga komunikasi cepat dengan pihak jurnal.
4. Etika Publikasi
Pedoman etik seperti COPE tidak mewajibkan penulis korespondensi menjadi penulis utama. Dengan demikian, tim penulis bebas menentukan berdasarkan kebutuhan penelitian.
Tugas Corresponding Author dalam Publikasi Ilmiah
Mengirimkan Naskah
Ia memastikan naskah sesuai pedoman jurnal. Selain itu, ia mengecek format dan metadata sebelum pengiriman.
Menjawab Komentar Reviewer
Ia mengoordinasikan revisi bersama tim. Selanjutnya, ia memastikan semua perubahan sesuai permintaan reviewer.
Memastikan Keakuratan Metadata
Corresponding author meninjau nama penulis, afiliasi, dan daftar referensi. Dengan demikian, ia membantu jurnal memproses artikel tanpa hambatan.
Mengelola Komunikasi Setelah Publikasi
Jika pembaca membutuhkan klarifikasi, ia menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, ia tetap memantau artikel di database akademik.
Contoh Situasi Penentuan Corresponding Author
Mahasiswa sebagai Penulis Utama
Mahasiswa sering menjadi penulis utama. Namun, dosen pembimbing biasanya mengambil peran corresponding author karena pertimbangan afiliasi dan pengalaman. Oleh karena itu, keduanya sering berbeda.
Penelitian Kolaboratif
Dalam kolaborasi antarlembaga, penulis korespondensi dipilih dari anggota yang akses komunikasinya paling stabil.
Penelitian Laboratorium
Pada penelitian laboratorium, PI (principal investigator) sering berperan sebagai penulis korespondensi meskipun bukan penulis utama. Dengan demikian, komunikasi lebih terkontrol.
Kesimpulan
Penulis korespondensi tidak harus menjadi penulis utama. Keduanya memiliki peran berbeda. Penulis utama fokus pada isi dan kontribusi ilmiah, sedangkan penulis korespondensi menangani komunikasi editorial. Dengan memahami perbedaannya, Anda dapat mengatur authorship dengan lebih transparan dan profesional.
Sudah siap publikasi? Jangan biarkan kesalahan kecil jadi penghalang. Publikasikan artikel Anda sekarang juga di IDSCIPUB!
