Jl. RP. Soeroso No. 25, Jakarta Pusat journal@idscipub.com
NSAID Bisa Sebabkan Insomnia?
Berita

NSAID dan Insomnia: Benarkah Ada Hubungannya?

Banyak orang mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa menyadari efek sampingnya terhadap kualitas tidur. NSAID dapat memicu insomnia jika digunakan dalam jangka panjang, terutama pada pemakaian rutin lebih dari satu bulan.

Fakta ini terungkap dari sebuah penelitian terbaru “The Relationship Between Commonly Used NSAID and Insomnia: A Case Reportyang dipublikasikan di Sinergi International Journal of Psychology (2026), yang mengamati hubungan antara konsumsi NSAID dan gangguan tidur pada pasien dewasa.


Apa Itu NSAID dan Mengapa Bisa Memengaruhi Tidur?

NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs) adalah golongan obat yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri, peradangan, dan demam. Contohnya adalah ibuprofen, diclofenac, dan asam mefenamat. Obat-obat ini bekerja dengan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-1 dan COX-2), sehingga produksi prostaglandin dalam tubuh menurun.

Sayangnya, prostaglandin tidak hanya berperan dalam peradangan. Senyawa ini, khususnya prostaglandin D2 (PGD2), juga berfungsi memicu tidur nyenyak (NREM) di otak. Oleh karena itu, ketika produksi PGD2 ditekan oleh NSAID, kualitas tidur seseorang bisa ikut terganggu, meskipun rasa nyerinya sudah mereda.

Klaim ini bukan sekadar asumsi. Studi yang dilakukan di RSI Jemursari Surabaya terhadap 86 partisipan dewasa membuktikan bahwa pengguna NSAID rutin memiliki skor keparahan insomnia (ISI) yang jauh lebih tinggi dibanding pengguna sesekali Klaim ini bukan sekadar asumsi. Studi yang dilakukan di RSI Jemursari Surabaya terhadap 86 partisipan dewasa membuktikan bahwa pengguna NSAID rutin memiliki skor keparahan insomnia (ISI) yang jauh lebih tinggi dibanding pengguna sesekali.

Menariknya, efek NSAID terhadap tidur ini bersifat paradoks. Pada pemakaian jangka pendek, misalnya setelah operasi kecil, NSAID justru membantu tidur lebih nyenyak karena nyeri berkurang. Namun, jika dikonsumsi berbulan-bulan untuk nyeri kronis, efek neurokimianya justru bisa memperberat insomnia, bahkan ketika rasa sakitnya sudah terkendali.


Faktor yang Memperparah Gangguan Tidur akibat NSAID

Beberapa faktor berikut dapat memperparah gangguan tidur pada pengguna NSAID jangka panjang:

  • Stres psikologis, tekanan pekerjaan dan kecemasan memicu kondisi waspada berlebih (hyperarousal) yang menghambat proses tidur.
  • Konsumsi kafein, terutama di sore atau malam hari, yang memperkuat efek NSAID dalam mengganggu ritme sirkadian.
  • Nyeri kronis seperti arthritis, yang cenderung membuat insomnia lebih parah dibanding nyeri akut karena tubuh sudah lama berada dalam kondisi waspada berlebih.
  • Gaya hidup urban, seperti jam kerja panjang dan jadwal tidur tidak teratur, yang memperkuat interaksi antara faktor-faktor di atas.

Kombinasi dari faktor-faktor tersebut membuat siklus nyeri, insomnia, dan ketergantungan obat menjadi sulit diputus.


Cara Mengurangi Risiko Insomnia akibat NSAID

Empat langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko gangguan tidur tanpa harus menghentikan pengobatan NSAID sepenuhnya:

  1. Gunakan NSAID sesuai anjuran dosis dan durasi, jangan diperpanjang sendiri tanpa konsultasi medis.
  2. Hindari konsumsi menjelang malam hari, jika memungkinkan, agar tidak mengganggu proses tidur.
  3. Pertimbangkan terapi nonfarmakologis, seperti fisioterapi atau CBT-I (terapi perilaku kognitif untuk insomnia), sebagai pelengkap penanganan nyeri kronis.
  4. Konsultasikan keluhan tidur kepada dokter, terutama bila NSAID sudah dikonsumsi lebih dari satu bulan.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, evaluasi kualitas tidur dapat menjadi bagian rutin dari manajemen nyeri, bukan sekadar efek samping yang diabaikan begitu saja.


Kesimpulan

Hubungan antara NSAID dan insomnia ternyata lebih kompleks dari yang banyak orang kira. Selain meredakan nyeri, obat golongan ini juga menekan produksi prostaglandin D2 yang berperan penting dalam memicu tidur nyenyak, sehingga pemakaian jangka panjang berpotensi mengganggu kualitas tidur meskipun rasa sakitnya sudah membaik.

Oleh karena itu, evaluasi kualitas tidur sebaiknya menjadi bagian rutin dari manajemen nyeri, bukan sekadar efek samping yang diabaikan. Dengan pemahaman ini, pasien dan tenaga medis dapat lebih bijak dalam menentukan durasi terapi, waktu konsumsi, serta kapan perlu mempertimbangkan pendekatan nonfarmakologis sebagai pelengkap pengobatan.

Kunjungi IDSCIPUB untuk konsultasi gratis dan temukan jurnal Sinta yang paling sesuai dengan bidang risetmu.

Referensi: Azzuhri, S. A. W., Algristian, H., & Sugijanti, A. P. (2026). The Relationship Between Commonly Used NSAID and Insomnia: A Case Report. Sinergi International Journal of Psychology, 4(2), 1-5. https://doi.org/10.61194/psychology.v4i2.874