Dunia HR punya asumsi lama: buat karyawan bersemangat dulu, baru mereka mau berkontribusi lebih. Tapi asumsi ini ternyata tidak berlaku untuk Gen Z.
Sebuah penelitian di Ilomata International Journal of Management (2026) membuktikannya. Studi berjudul “Testing the Mediating Role of Work Engagement between Work Environment and Organizational Citizenship Behavior among Generation Z Employees” ini meneliti karyawan Gen Z di Bekasi dan menemukan bahwa lingkungan kerja yang suportif langsung membentuk perilaku positif mereka.
Apa Itu Perilaku Sukarela di Tempat Kerja?
Penelitian ini berfokus pada apa yang dalam ilmu manajemen disebut Organizational Citizenship Behavior (OCB) atau perilaku sukarela karyawan yang melampaui kewajiban formalnya.
Contohnya: membantu rekan kerja yang kerepotan meski bukan tugasnya, menjaga suasana tim tetap positif, aktif dalam kegiatan organisasi, atau meluangkan waktu ekstra tanpa diminta. Perilaku ini tidak ada di job description dan tidak terukur di KPI, tapi dampaknya sangat nyata bagi organisasi.
Perilaku mengukur OCB menggunakan lima dimensi dari Organ:
- Altruism — kesediaan membantu rekan kerja secara sukarela
- Courtesy — menjaga hubungan interpersonal yang positif
- Conscientiousness — bekerja melampaui standar minimum yang ditetapkan
- Sportsmanship — tetap bersikap positif meski dalam kondisi sulit
- Civic Virtue — aktif berpartisipasi dalam kegiatan organisasi
Semangat kerja diukur menggunakan tiga dimensi dari Utrecht Work Engagement Scale (UWES): vigor (energi dan ketangguhan), dedication (antusiasme dan rasa bermakna), serta absorption (fokus dan keterlibatan penuh).
Siapa yang Diteliti?
Studi ini melibatkan 202 karyawan Generasi Z, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 yang bekerja di berbagai sektor di Bekasi: manufaktur, ritel, pendidikan, jasa, hingga industri digital.
Responden dipilih secara purposif dengan syarat: berusia 18–27 tahun, bekerja di organisasi formal di Bekasi, dan sudah bekerja minimal enam bulan di tempat kerja saat ini.
Faktor Apa Saja yang Membentuk Perilaku Positif Gen Z?
Gen Z tumbuh dengan teknologi, terbiasa dengan umpan balik cepat, fleksibilitas tinggi, dan komunikasi digital yang dinamis. Mereka tidak butuh waktu lama untuk “jatuh cinta” pada pekerjaan sebelum mau berkontribusi lebih. Kondisi tempat kerja yang aman, adil, dan suportif sudah cukup menggerakkan mereka.
Pola ini konsisten dengan Social Exchange Theory: ketika organisasi memperlakukan karyawan dengan baik, karyawan langsung membalasnya dengan perilaku positif. Bagi Gen Z, balas budi itu tidak perlu menunggu rasa cinta pada pekerjaan tumbuh lebih dulu.
Implikasi Manajerial dari Penelitian Ini
Penelitian ini memberikan beberapa pesan praktis yang bisa langsung diterapkan.
- Utamakan kualitas lingkungan kerja harian. Komunikasi lancar, rasa dihargai, dan atasan yang bisa diandalkan itulah yang benar-benar menggerakkan perilaku Gen Z — bukan program motivasi besar-besaran.
- Bangun iklim kerja kolaboratif dan terbuka. Karyawan yang tidak takut salah dan merasa didukung timnya paling mungkin menunjukkan perilaku sukarela secara konsisten.
- Fleksibilitas adalah sinyal kepercayaan. Gen Z membaca fleksibilitas jam atau metode kerja sebagai penghargaan nyata yang mendorong mereka berkontribusi lebih.
- Program semangat kerja tidak cukup berdiri sendiri. Semangat kerja terbukti bukan perantara yang signifikan, sehingga fokus sebaiknya peneliti arahkan langsung pada pembentukan lingkungan kerja yang kondusif.
Kesimpulan
Mendorong karyawan Gen Z berkontribusi lebih dimulai dari satu hal: bangun lingkungan kerja yang layak bukan program untuk membuat mereka lebih bersemangat.
Temuan ini memperluas pemahaman ilmu perilaku organisasi. Generasi yang tumbuh di era digital merespons perilaku positif di tempat kerja secara lebih langsung dari yang selama ini diasumsikan.
Organisasi yang ingin sukses bersama karyawan Gen Z perlu memahami satu hal: kuncinya bukan membuat mereka jatuh cinta pada pekerjaannya, tapi memastikan tempat kerja mereka layak untuk dicintai.
Punya penelitian serupa? IDSCIPUB siap mendampingi publikasinya ke jurnal ilmiah nasional maupun internasional.
