Jl. RP. Soeroso No. 25, Jakarta Pusat [email protected]
Mengukur Cyberbullying Remaja Indonesia
Berita

Mengenal Cyberbullying Scale dan Validasinya di Indonesia

Cyberbullying kini menjadi masalah psikososial serius di kalangan remaja Indonesia. Penggunaan media digital terus meningkat, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat ribuan pelanggaran digital terkait cyberbullying setiap tahunnya.

Oleh karena itu, peneliti, konselor sekolah, dan pembuat kebijakan sangat membutuhkan instrumen pengukuran yang tervalidasi. Tanpa alat ukur yang andal, deteksi dini dan intervensi berbasis bukti tidak akan berjalan optimal.

Pertanyaan itulah yang mendorong para peneliti dari Universitas Paramadina Jakarta untuk mengadaptasi dan memvalidasi Cyberbullying Scale ke dalam konteks Indonesia. Menjawab kebutuhan itu, mereka melakukan studi sistematis untuk pertama kalinya, karena instrumen yang tidak diuji secara lokal tidak akan pernah menghasilkan data yang akurat.


Proses Adaptasi Cyberbullying Scale ke Bahasa Indonesia

Martcelina dkk. mengadaptasi Cyberbullying Scale yang dikembangkan Stewart ke dalam bahasa Indonesia. Mereka mengikuti panduan WHO untuk adaptasi lintas budaya, mencakup forward translation, backward translation, tinjauan panel ahli, dan pilot testing.

Hasil pilot testing menunjukkan tingkat pemahaman yang sangat tinggi. Selanjutnya, tim peneliti mengganti contoh platform asing dengan platform gaming lokal seperti Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG agar lebih relevan bagi remaja Indonesia.


Hasil EFA dan CFA: Unidimensional tapi Belum Sepenuhnya Optimal

Para peneliti menguji instrumen ini menggunakan Exploratory Factor Analysis dan Confirmatory Factor Analysis pada ratusan remaja dari berbagai provinsi di Indonesia.

Hasil EFA menunjukkan struktur unidimensional yang kuat. Seluruh item memiliki factor loading tinggi sehingga tidak ada satu pun item yang perlu dieliminasi. Temuan ini berhasil mereplikasi struktur satu faktor dari instrumen asli versi Barat.

Namun demikian, hasil CFA menunjukkan bahwa indeks fit global belum memenuhi ambang batas yang direkomendasikan. Model satu faktor belum sepenuhnya menangkap kompleksitas pengalaman cyberbullying dalam konteks budaya Indonesia yang kolektivistik. Dengan demikian, eksplorasi model alternatif menjadi agenda penelitian yang mendesak.


Reliabilitas Tinggi: Kekuatan Utama Instrumen Ini

Meskipun fit global CFA belum optimal, CBS versi Indonesia mencatat konsistensi internal yang sangat baik. Koefisien Cronbach’s alpha dan McDonald’s omega keduanya melampaui ambang batas konvensional, bahkan melebihi reliabilitas instrumen aslinya.

Selain itu, uji validitas known-groups berhasil membedakan skor cyberbullying antara siswa SMP dan SMA secara signifikan. Hal ini memperkuat bahwa CBS versi Indonesia layak untuk penelitian kelompok dan pemantauan tren prevalensi cyberbullying.


Platform Digital dan Konteks Budaya yang Membentuk Pengalaman Cyberbullying

Penelitian ini menemukan bahwa WhatsApp menjadi platform paling dominan dalam kasus cyberbullying, diikuti Instagram dan platform virtual gaming. Karena itu, program intervensi perlu mempertimbangkan karakteristik spesifik tiap platform.

Pola keterlibatan gender di Indonesia juga berbeda dari temuan Barat. Perempuan lebih banyak terlibat sebagai pelaku sekaligus korban, yang menunjukkan bahwa cyberbullying di Indonesia lebih bersifat relasional. Dampak terbesar yang korban rasakan meliputi rasa takut, penurunan harga diri, dan perasaan tidak berdaya.


Implikasi untuk Penelitian dan Praktik

CBS versi Indonesia cocok untuk penelitian kelompok seperti survei prevalensi dan pemantauan tren nasional. Namun, peneliti belum bisa menggunakannya untuk diagnostik klinis individual sebelum melakukan refinement dan cross-validasi pada sampel independen.

Hal ini sebagaimana dibahas dalam penelitian berjudul Adaptation and Validation of the Cyberbullying Scale in Indonesian Version: Exploratory and Confirmatory Factor Analysis Approach yang mengkaji secara mendalam proses validasi instrumen cyberbullying dalam konteks sosial budaya remaja Indonesia.


FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda EFA dan CFA dalam validasi instrumen?

EFA mengeksplorasi struktur faktor tanpa asumsi awal, sedangkan CFA menguji apakah struktur yang dihipotesiskan cocok dengan data empiris.

Apakah CBS versi Indonesia sudah bisa digunakan untuk penelitian?

Sudah layak untuk penelitian kelompok dan survei prevalensi, tetapi belum untuk diagnostik klinis individual sebelum dilakukan refinement lebih lanjut.

Platform apa yang paling banyak menjadi tempat cyberbullying di Indonesia?

WhatsApp mendominasi, diikuti Instagram dan platform gaming. Karena itu, intervensi perlu dirancang secara spesifik per platform.

Apa dampak terbesar yang korban cyberbullying rasakan?

Korban paling banyak melaporkan rasa takut, penurunan harga diri, perasaan tidak berdaya, kecemasan, dan depresi yang berpotensi berdampak jangka panjang.


Kesimpulan

CBS versi Indonesia terbukti andal sebagai alat skrining dalam penelitian kelompok dan pemantauan cyberbullying nasional. Namun, model satu faktor belum cukup merepresentasikan keragaman pengalaman remaja Indonesia, sehingga pengujian model alternatif seperti bifactor atau tiga faktor perlu menjadi prioritas penelitian selanjutnya.

Temuan ini menegaskan bahwa sensitivitas budaya tidak bisa diabaikan dalam pengembangan instrumen psikologi. Nilai kolektivisme, norma face-saving, dan pola platform digital yang khas di Indonesia membentuk pengalaman cyberbullying yang lebih kompleks, sehingga pengembangan item berbasis realita lokal menjadi langkah yang mendesak.

Temukan referensi dan publikasikan kajian psikometri Anda bersama IDSCIPUB, mitra publikasi ilmiah terpercaya untuk peneliti Indonesia.

Penulis:

Martcelina, W.L., Prayogi, U.D., Fadiyah, G.A., Fitriana, A., Latifani, S., Nugraha, M.R., Wulandari, D., & Suwartono, C. (2026).