Secara sederhana, first author adalah penulis dengan kontribusi riset terbesar dan namanya tercantum pertama, sedangkan corresponding author adalah penulis yang bertanggung jawab atas komunikasi dengan jurnal dan keabsahan isi artikel.
Kedua peran ini sering dianggap sama “penting”, padahal fungsi dan bobot nilainya berbeda. Sayangnya, kekeliruan kecil dalam memahami posisi kepengarangan bisa berdampak besar, terutama saat berkas pengajuan jabatan akademik ditolak hanya karena posisi penulis tidak sesuai aturan.
Mengenal Peran First Author dan Corresponding Author
Peran First Author dalam Publikasi Ilmiah
First author adalah penulis yang namanya tercantum pertama dalam daftar penulis. Posisi ini umumnya diberikan kepada orang yang menyumbang kontribusi riset paling besar, mulai dari merancang metode, mengumpulkan data, hingga menulis naskah awal.
Peran Corresponding Author dalam Publikasi Ilmiah
Sementara itu, corresponding author berperan sebagai penghubung resmi antara tim penulis dengan pihak jurnal. Tugasnya meliputi pengiriman manuskrip, menjawab revisi dari reviewer, dan bertanggung jawab penuh atas keabsahan isi artikel. Oleh karena itu, jika di kemudian hari ditemukan masalah etika seperti plagiarisme, corresponding author yang pertama kali diminta pertanggungjawaban.
Kedua peran ini sebenarnya bisa dipegang oleh orang yang sama, namun bisa juga dipisah ke dua orang berbeda. Nah, di sinilah letak persoalannya ketika aturan akademik mulai menuntut kombinasi keduanya.
Baca Juga: Corresponding Author: Apakah Harus Penulis Utama?
Aturan Baru Syarat Lektor Kepala dan Profesor: First Author Sekaligus Corresponding Author
Perubahan signifikan terjadi pada regulasi kenaikan jabatan akademik dosen di Indonesia. Berdasarkan ketentuan terbaru, syarat khusus untuk jenjang Lektor Kepala dan Profesor kini menetapkan bahwa dosen wajib memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi dalam satu artikel yang sama, bukan hanya salah satunya.
Perbedaan dengan Aturan Lama
Ketentuan ini berbeda dari aturan lama yang masih memberi ruang “atau”, yakni penulis pertama atau corresponding author. Akibatnya, dosen yang sebelumnya cukup menjadi first author saja, kini harus memastikan dirinya juga berperan sebagai korespondensi di artikel yang sama. Selain itu, indikator jurnal pun makin spesifik, misalnya nilai SJR di atas 0,10 atau Impact Factor di atas 0,05 untuk jenjang Profesor.
Perubahan ini tentu menuntut strategi penulisan yang lebih matang sejak awal proses riset. Karena itu, diskusi mengenai siapa yang akan menjadi penulis utama sebaiknya dilakukan sebelum penelitian dimulai, bukan menjelang naskah selesai.
Nilai Angka Kredit First Author dan Corresponding Author
Dalam skema penilaian angka kredit, posisi penulis utama memang dinilai berbeda tergantung peran yang dijalankan. Berdasarkan ketentuan penilaian jabatan akademik dosen, jika seseorang merangkap sebagai first author dan corresponding author, ia memperoleh porsi angka kredit terbesar dibanding apabila kedua peran tersebut dipegang oleh dua orang berbeda.
Dengan demikian, merangkap dua peran ini bukan sekadar formalitas administratif. Nilai akademiknya pun lebih tinggi karena mencerminkan tanggung jawab penuh, baik dari sisi substansi riset maupun proses publikasi. Namun, mendapatkan posisi ganda ini juga berarti menanggung risiko yang lebih besar jika terjadi masalah etika publikasi di kemudian hari.
Baca Juga: Peran Author dan Co-Author dalam Penulisan Ilmiah
Strategi Memenuhi Syarat First Author dan Corresponding Author
Selanjutnya, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan agar publikasi tetap memenuhi syarat sekaligus efisien dari sisi waktu. Pertama, tentukan peran penulis di awal kolaborasi riset agar tidak terjadi perdebatan setelah naskah jadi.
Kedua, pastikan jurnal tujuan memang terindeks dan memenuhi kriteria reputasi yang disyaratkan, karena kesalahan memilih penerbit kerap menjadi alasan berkas ditolak asesor.
Ketiga, pertimbangkan pendampingan profesional jika belum familiar dengan proses submission jurnal internasional seperti IDSCIPUB hadir sebagai mitra publikasi yang membantu dosen, mahasiswa S2/S3, dan peneliti dalam menavigasi proses penerbitan artikel ilmiah.
Kesimpulan
First author dan corresponding author memang berbeda fungsi, namun bobotnya tetap setara dalam menentukan kualitas karya ilmiah. Kontribusi riset terbesar tercermin dari first author, sedangkan corresponding author bertanggung jawab atas keabsahan dan proses publikasi. Oleh karena itu, dosen, mahasiswa S2/S3, dan peneliti perlu memberi perhatian setara pada keduanya.
Selain itu, aturan baru yang mewajibkan rangkap first author sekaligus corresponding author untuk syarat khusus Lektor Kepala dan Profesor menuntut perencanaan publikasi yang lebih matang. Pembagian peran penulis dan pemilihan jurnal yang sesuai kriteria harus dipikirkan sejak awal riset. Dengan begitu, jalan menuju kenaikan jabatan akademik bisa lebih terarah dan minim risiko penolakan berkas.

